
“Anak-anak yang masuk SMP kita minta membawa satu pohon tiap anak, baik pohon pelindung, pohon buah, bahkan pohon sayuran pun. Tujuannya membangun karakter, karena mereka yang menanam, mereka yang merawat, dan nantinya mereka juga yang menikmati hasilnya,” ungkap Herry.
Ia mengakui tidak semua sekolah memiliki lahan yang cukup untuk penanaman. Karena itu, sekolah diperbolehkan memanfaatkan taman kota, ruang terbuka hijau, maupun kawasan bantaran sungai sebagai lokasi penghijauan dengan tetap melibatkan siswa dalam proses perawatan.
“Kalau sekolah lahannya terbatas seperti SMP 1, SMP 7 atau SMP 8, penanamannya bisa dilakukan di lokasi lain, misalnya di taman kota atau kawasan bantaran Sungai Ciliwung. Yang terpenting, anak-anak tetap bertanggung jawab merawat tanaman itu dengan rutin menyiram dan memantau pertumbuhannya,” jelasnya.
Herry menambahkan, program tersebut saat ini difokuskan untuk jenjang SMP. Sementara bagi sekolah dasar, konsep penghijauan akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah, misalnya melalui penanaman sayuran dalam pot yang dapat dirawat oleh para siswa.
Ke depan, Pemkot Bogor berharap gerakan menanam pohon juga diterapkan di tingkat SMA melalui koordinasi dengan Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Provinsi Jawa Barat sehingga menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh jenjang pendidikan di Kota Bogor.


Tidak ada komentar